Archive for the ‘Journey’ Category

Partisipasi pada Forum Al Quran dan Lautan

Dilaporkan pada Mailling List Alquran dan Lautan

Teman-teman anggota milis Lautan-Quran rahimakumullah,

Assalamu’alaikum wrwb.

Alhamdulillah kita bisa silaturahmi lagi. Saya sudah tiba kembali di Brunei dan kembali masuk kantor seperti biasa. Seminggu lalu, 5/5/05 – 14/5/05, saya ambil cuti khusus untuk memenuhi undangan rekan-rekan sekalian di 5 kota untuk berbagi pengetahuan dan membedah buku ALQURAN DAN LAUTAN. Sedikit berbagi cerita dan menangkap aspirasi forum hadirin, berikut saya coba “lapor”-kan:

BOGOR
Para dosen dan adik-adik mahasiswa dari berbagai fakultas dimotori Majlis Taklim Almarjan IPB, menggelar acara bedah buku di Auditorium FPerikanan&Kelautan IPB. Sekitar 300 hadirin memadati gedung ini. Acara dibuka dengan pertujukan clip video karya adik2 mahasiswa yang sangat mengsankan. Tentang dunia bawah air.  Pak Kurnia Kurnia yang menemani saya di meja panelis menggelar gagasan2 pengelolaan sumber daya kelautan berazaskan syariah. Sedangkan Pak Zulhamsyah Imran mencabar kita semua untuk menyelesaikan isu-isu seperti illegal fishing, perusakan ekosistem, perebutan wilayah tangkap dan pengelolaan pulau-pulau kecil di perbatasan. Termasuk ancaman pihak asing di periferi kepulauan luar Indonesia itu.

Pertanyaan2 para mahasiswa sangat cerdas. Tidak ketinggalan Pak Dr. Joko Purwanto yang ahli paleo marine (?) juga ikut angkat bicara menghangatkan diskusi. Saking antusiasnya, beliau setuju pada buku saya “2000%… bukan cuma
100%”, dan merekomendasikan para mahasiswanya untuk membaca buku ini. Ada juga mahasiswa yang menanyakan motivasi saya yang hidup di luar negeri sudah 7 tahun, tapi kok ya masih mau memikirkan Indonesia. He..he..

Desa Ini Ditinggal Generasi Muda

Dua kali bertandang ke Desa Ini, ada sesuatu yang menggelitik.  Ada apa geranggan di Desa Ini ?  Kali pertama berkunjung pada tanggal 31 Januari 2012 dalam suatu acara workshop yang diselenggarakan oleh Departemen Bioresources, Hiroshima University, hanya dihadiri oleh kalangan yang sudah tua-tua.  Ternyata kali kedua berkunjung pada tanggal 4 Maret 2012 juga tidak berbeda, hanya dari kalangan orang-orang tua saja yang hadir.  Rasanya semakin ingin tahu, kenapa hanya orang-orang tua saja yang hadir.

Setelah tanya sama teman mahasiswa dan sense, mereka mengatakan bahwa problem utama yang sedang dihadapi oleh penduduk Desa Ini adalah semakin langkanya anak-anak muda yang tinggal di desa tersebut.  Mereka, para kalangan muda lebih memilih pindah ke kota untuk mencari lapangan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan mereka.  Kegiatan pertanian yang menghasilkan padi sudah tidak menarik lagi bagi kalangan muda.

Desa Ini, dapat dibilang menarik, karena terletak di pegunungan dan sudah dijadikan salah satu desa ekowisata di Wilayah Hiroshima.  Tetapi tetap saja dianggap sudah tidak menarik lagi bagi anak muda, yang ingin bekerja di perkantoran di wilayah kota.  Pemerintah Kota Hiroshima sedang berupaya untuk membuat master plan guna memecahkan masalah ini.  Setidaknya dari berbagai ide yang berkembang dalam lokakarya, disusun tiga program utama: (1) membuat wilayah konservasi, (2) mengembangkan atraksi ekowisata, dan (3) mengkampanyekan program kembali desa bagi kalangan muda.

Apakah fenomena ini juga sedang terjadi di desa-desa di Indonesia.

 

Osaki Shimo Pulau Kecil Berlimpah Jeruk

Selepas presentasi pada tanggal 28 Februari 2012, saya diajak salah satu sense ke salah satu pulau kecil di daerah Kure, Hiroshima.  Sebut saja nama pulau kecil tersebut adalah Osaki Shimo Jima.  Perjalanan menuju ke Pulau tersebut dari Kampus Hiroshima University sekitar 1 jam.  Dalam benak saya sebelum sampai ke pulau kecil tersebut, saya mesti naik kapal feri.  Sebagaimana pengalaman menjelajah pulau-pulau kecil di Indonesia, selalu naik Kapal Feri.  Terakhir berkunjung ke Pulau Hibala di Kabupaten Nias Selatan dengan menggunakan pesawat SMAC (kata orang-orang sih, siap mati atau cacat).  Bahkan pulangnya untuk mencapai Teluk Dalam di Nias Selatan saya menumpang Kapal Barang dengan waktu perjalanan sekitar 8 jam.  Ya dapat dibilang timbul tenggelam di Samudera Hindia.

Iseng dalam perjalanan saya bertanya sama sense yang mengendarai mobil, “Apakah kita akan naik kapal feri untuk menyeberang ke pulau kecil tersebut? Sense menjawab,”tidak perlu, karena ada dua jembatan utama yang menghubungkannya dari pulau utama.    Bahkan lanjutnya, “melewati kesana pun akan melewati beberapa pulau kecil lainnya yang dihubungkan dengan jembatan dan akan melewati beberapajalan di bawah  terowongan.  Dalam hati saya katakan, berapa banyak duit yang di buang pemerintah Jepang untuk membangun infrastruktur hanya untuk menuju pulau kecil penghasil jeruk tersebut.

Ternyata benar, selepas dari Kure, Kota Pantai yang banyak menghasilkan kapal, kami melewati jembatan yang lumayan panjang.  Jembatan tersebut sekaligus berfungsi sebagai jalan tol untuk masuk ke beberapa pulau kecil yang terpisahkan dari pulau utama.  Sense mengeluarkan uang sebesar 750 Yen setiba di pintu gerbang jembatan, terus melintas seakan membawa saya di atas awan.  Saya perhatikana betapa kokoh dan gagahnya jembatan yang dibangun untuk menghubungkan pulau utama ke pulau kecil tersebut.  Tidak seperti jembatan yang menghubungkan antar dua sisi daratan di Sungai Kapuas, Kuta Kartanegera, yang roboh jauh dari usianya.  Semakin mengasikkan memperhatikan betapa view/pemandangan ke arah laut sungguh sangat indah.  Saya sedikit berlega karena di Indonesia juga memiliki dua jembatan di Pulau Batam yang menghubungkan Pulau Batam dan Galang dan Rembang (pernah berkunjung ke sini pada tahun 2001).

Saya dan rombongan juga melewati beberapa jembatan lagi untuk tiba di pulau yang dituju.  Setiba di Pulau Osaki Shimo Jima, kami sudah ditunggu oleh salah seorang petani jeruk yang berpakaian sangat sederhana.  Setelah menunggu beberapa saat, kami di bawa mendaki dengan menggunakan tiga mobil, tak lama kami tiba ditempat pemberhentian kebun jeruk.  Walau jalan beraspal menuju ke akses kebun jeruk hanya bisa dilalui satu mobil, namun di beberapa titik tetap disediakan tempat papasan mobil.  Bahkan disedikan area untuk memarkir 3 mobil untuk para tamu.

Kami mendaki ke lokasi kebun jeruk, setiba di lokasi, petani yang sangat fasih berbahasa Jepang mulai bercerita dengan kebun jeruk.  Dia mulai bercerita bahwa, 5o tahun yang lalu dengan luas kebun jeruk 1 ha, dia telah mendapatkan keuntungan 6 juta yen per tahun.  Saat ini dia telah memiliki 4 ha kebun jeruk yang tersebar di beberapa titik di pulau-pulau kecil bergunung-gunung.  Salah satunya terletak di salah satu pulau kecil yang termasuk ke dalam wilayah administrasi Prefecture Ehime (Provinsi Ehime).

Saya mulai bertanya dalam hati, “bagaimana bisa para petani menanam jeruk pada tanah berbukit dan berbatu serta letaknya di pulau kecil?.  Sungguh usaha yang luar biasa, kerja keras, disiplin, dan pantang menyerah.  Lalu saya minta sense mengajukan pertanyaan,”berapa jenis jeruk yang ditanam di sini? Pak Petani menjawab,”tidak banyak katanya, di area 4 ha ini, dia menanam hampir 50 jenis jeruk?.  Bahkan dengan optimis dia petik satu-persatu jenis jeruk untuk dicobakan kepada kami sebagai pengunjung.

Singkat cerita, kami mencoba berbagai jenis jeruk mulai dari jeruk yang ukuran kecil, bisa dimakan sekaligus dengan kulitnya sampai jeruk yang berukuran besar.  Bahkan dia katakan bahwa di Italia dia mencuri bagian tankai buah jeruk dan kemudian di kembangkan di pulau tersebut.  Sungguh petani yang cerdas dan penuh dengan semangat inovasi, jeruk dari itali pun berkembang dan tumbuh subur di area kebun nya.

Akhirnya saya berpikir, seandainya Indonesia bisa seperti ini, sungguh luar biasa.   Semoga.

Pasar Central Hiroshima City: Pasar Ikan

Kata yang pantas keluar dari mulut adalah luar biasa saat melakukan kunjungan ke Pasar Central Hiroshima City pada tanggal 1 Maret 2012.  Pasar yang terdiri dari Pasar Ikan, Pasar Buah dan Sayuran, dan Pasar Bunga dikelola langsung oleh Pemerintah Lokal Kota Hiroshima.

Semakin terkesan ketika datang ke pasar ikan yang mulai ada aktivitasnya sejak jam 4.30 pagi waktu setempat, tidak ada kesan bau menyengat, bahkan bau amis ikan.  Lantai pasar bersih dan kering, tidak ada saluran yang berisi tumpukan ikan busuk, air pun mengalir begitu lancar.  Semakin terkesima, saat menyaksikan pelelangan ikan berjalan dengan lancar.  Banyak perusahaan yang melakukan transaksi di pagi buta tersebut.  Ikan-ikan akan dikirim ke luar pasar sentral sampai kepada konsumen melalui supermarket dan pasar-pasar kecil lainnya ke seluruh penjuru di Provinsi Hiroshima.

Beragam ikan di jual di pasar ikan ini, mulai dari ikan buntal sampai ikan tuna yang diimpor dari Bali, Indonesia.  Salah satu pengelola perusahaan importir menerangkan bahwa harga ikan tuna sirip kuning bisa mencapai 9.000 per kilo.  Sementara tuna yang telah di slice dalam ukuran yang kecil harganya mencapai 2.00 Yen per 200 gramnya.   Ikan hidup pun tersedia yang disuplai dari kegiatan budidaya yang dilakukan oleh para pembudidaya ikan di Jepang.

Sarana yang disediakan pun tidak tanggung-tanggung, pelabuhan untuk mendaratkan ikan, transportasi darat, parkir gratis, serta ruang pendingin.  Bahkan sistem pengelolaan keuangannya pun langsung ditangani para akuntan yang dilayani oleh perusahaan akuntan publik.

Masih banyak lagi cerita menarik lainnya.