Butut Komplain Terhadap Keterlambatan Pencairan Beasiswa DIKTI

Ternyata effek dari berbagai komplain terhadap keterlambatan pembayaran beasiswa DIKTI term 2 tidak berhenti pada sejumlah protes dari karyasiswa DIKTI.  Mereka meminta agar DIKTI dapat mempercepat proses pencairan dana tersebut dengan pertimbangan: (1) banyak karyasiswa sudah mendapatkan ancaman sangsi administrasi dari tempat para karyasiswa menimba ilmu, (2) persediaan biaya hidup karyasiswa sudah mulai habis, bahkan sudah ada yang berhutang, dan (3) keterlambatan pencairan dengan berbagai alasan yang dilontarkan DIKTI terlalu mengada-ngada.

Salah satu buntut dari problematika keterlambatan pencairan beasiswa tersebut, munculnya usulan agar beasiswa dikelola sebagaimana standar LPDP atau dikelola lewat unit khusus dengan skema Badan Layanan Umum.  Sebenarnya karyasiswa sudah lama menyimpan berbagai uneg-uneg terkait pengelolaan beasiswa yang telah menumbuhkan harapan bagi banyak dosen PTN dan PTS guna menuntut ilmu di luar negeri.  Keluhan tidak berhenti sampai pada lancarnya pencairan beasiwa term 2.   Namun Perhimpunan Karyasiswa Dikti Luar Negeri (PKDLN) setidaknya mencatat sederet masalah, mulai dari proses pelaporan laporan kemajuan, ketidakjelasan kreteria perpanjangan beasiswa, arogansi pelayanan pengelola, sistem pengelolaan yang tidak profesional, sampai kepada persoalan terhambatnya informasi dan komunikasi.  Dan yang lebih menarik, ternyata carut-marut pengelolaan beasiswa dikti sudah sangat kronis dan massive, salah satu alumni penerima beasiswa luar negeri dikti angkatan 2008 memberikan tanggapan berikut ini:

“Hanafi………Saya dikti angkatan 2008 PhD ke Manchester UK, Nama Saya Spits Warnars Harco Leslie Hendric, PhD.  Dana dikti saya selalu telat 8 bulan, terpaksa tidak bisa akses perpus dan lab gara-gara telat bayar melulu. Tahun 2010 saya sewaktu di Inggris, kakak saya ke Kopertis 3 untuk menemui ibu Sri, bendahar kopertis 3, namun setelah susah mencari dan ditongkrongin oleh kakak saya , jawabannya hanya : “memangnya kami cuman mengurusi beasiswa adik situ !”. Demikian juga uang kepulangan saya dibohongin oleh pengurus DIKTI, Tahun 2013 awal saya pulang dan lapor ke DIKTI lantai 5 dan ketemu seorang ibu yang sudah berumur dan memaksa saya untuk tanda tangan , yang katanya dananya akan keluar pada anggaran tahun depan, yang kalau saya tolak malah katanya dananya tidak keluar. Setelah saya tanda tangan, awal 2014 saya ke DIKTI lantai 5, yg terjadi saya dianggap belum lapor dan di pingpong sana sini. Semangat mas Hanafi, stop KORUPSI di tubuh DIKTI. Dulu juga sempat penerima beasiswa dikti mengajukan ke Menteri M.Nuh, namun tidak ditanggapi. Nasib. Tetap semangat…..”

Akankah drama babak dua ini berlanjut ke babak selanjutnya.  Kita lihat saja nanti……..kayaknya semakin seru.

Leave a Reply