Osaki Shimo Pulau Kecil Berlimpah Jeruk

Selepas presentasi pada tanggal 28 Februari 2012, saya diajak salah satu sense ke salah satu pulau kecil di daerah Kure, Hiroshima.  Sebut saja nama pulau kecil tersebut adalah Osaki Shimo Jima.  Perjalanan menuju ke Pulau tersebut dari Kampus Hiroshima University sekitar 1 jam.  Dalam benak saya sebelum sampai ke pulau kecil tersebut, saya mesti naik kapal feri.  Sebagaimana pengalaman menjelajah pulau-pulau kecil di Indonesia, selalu naik Kapal Feri.  Terakhir berkunjung ke Pulau Hibala di Kabupaten Nias Selatan dengan menggunakan pesawat SMAC (kata orang-orang sih, siap mati atau cacat).  Bahkan pulangnya untuk mencapai Teluk Dalam di Nias Selatan saya menumpang Kapal Barang dengan waktu perjalanan sekitar 8 jam.  Ya dapat dibilang timbul tenggelam di Samudera Hindia.

Iseng dalam perjalanan saya bertanya sama sense yang mengendarai mobil, “Apakah kita akan naik kapal feri untuk menyeberang ke pulau kecil tersebut? Sense menjawab,”tidak perlu, karena ada dua jembatan utama yang menghubungkannya dari pulau utama.    Bahkan lanjutnya, “melewati kesana pun akan melewati beberapa pulau kecil lainnya yang dihubungkan dengan jembatan dan akan melewati beberapajalan di bawah  terowongan.  Dalam hati saya katakan, berapa banyak duit yang di buang pemerintah Jepang untuk membangun infrastruktur hanya untuk menuju pulau kecil penghasil jeruk tersebut.

Ternyata benar, selepas dari Kure, Kota Pantai yang banyak menghasilkan kapal, kami melewati jembatan yang lumayan panjang.  Jembatan tersebut sekaligus berfungsi sebagai jalan tol untuk masuk ke beberapa pulau kecil yang terpisahkan dari pulau utama.  Sense mengeluarkan uang sebesar 750 Yen setiba di pintu gerbang jembatan, terus melintas seakan membawa saya di atas awan.  Saya perhatikana betapa kokoh dan gagahnya jembatan yang dibangun untuk menghubungkan pulau utama ke pulau kecil tersebut.  Tidak seperti jembatan yang menghubungkan antar dua sisi daratan di Sungai Kapuas, Kuta Kartanegera, yang roboh jauh dari usianya.  Semakin mengasikkan memperhatikan betapa view/pemandangan ke arah laut sungguh sangat indah.  Saya sedikit berlega karena di Indonesia juga memiliki dua jembatan di Pulau Batam yang menghubungkan Pulau Batam dan Galang dan Rembang (pernah berkunjung ke sini pada tahun 2001).

Saya dan rombongan juga melewati beberapa jembatan lagi untuk tiba di pulau yang dituju.  Setiba di Pulau Osaki Shimo Jima, kami sudah ditunggu oleh salah seorang petani jeruk yang berpakaian sangat sederhana.  Setelah menunggu beberapa saat, kami di bawa mendaki dengan menggunakan tiga mobil, tak lama kami tiba ditempat pemberhentian kebun jeruk.  Walau jalan beraspal menuju ke akses kebun jeruk hanya bisa dilalui satu mobil, namun di beberapa titik tetap disediakan tempat papasan mobil.  Bahkan disedikan area untuk memarkir 3 mobil untuk para tamu.

Kami mendaki ke lokasi kebun jeruk, setiba di lokasi, petani yang sangat fasih berbahasa Jepang mulai bercerita dengan kebun jeruk.  Dia mulai bercerita bahwa, 5o tahun yang lalu dengan luas kebun jeruk 1 ha, dia telah mendapatkan keuntungan 6 juta yen per tahun.  Saat ini dia telah memiliki 4 ha kebun jeruk yang tersebar di beberapa titik di pulau-pulau kecil bergunung-gunung.  Salah satunya terletak di salah satu pulau kecil yang termasuk ke dalam wilayah administrasi Prefecture Ehime (Provinsi Ehime).

Saya mulai bertanya dalam hati, “bagaimana bisa para petani menanam jeruk pada tanah berbukit dan berbatu serta letaknya di pulau kecil?.  Sungguh usaha yang luar biasa, kerja keras, disiplin, dan pantang menyerah.  Lalu saya minta sense mengajukan pertanyaan,”berapa jenis jeruk yang ditanam di sini? Pak Petani menjawab,”tidak banyak katanya, di area 4 ha ini, dia menanam hampir 50 jenis jeruk?.  Bahkan dengan optimis dia petik satu-persatu jenis jeruk untuk dicobakan kepada kami sebagai pengunjung.

Singkat cerita, kami mencoba berbagai jenis jeruk mulai dari jeruk yang ukuran kecil, bisa dimakan sekaligus dengan kulitnya sampai jeruk yang berukuran besar.  Bahkan dia katakan bahwa di Italia dia mencuri bagian tankai buah jeruk dan kemudian di kembangkan di pulau tersebut.  Sungguh petani yang cerdas dan penuh dengan semangat inovasi, jeruk dari itali pun berkembang dan tumbuh subur di area kebun nya.

Akhirnya saya berpikir, seandainya Indonesia bisa seperti ini, sungguh luar biasa.   Semoga.

One Response to “Osaki Shimo Pulau Kecil Berlimpah Jeruk”

  • Terima kasih atas postingannya kang, benar2 inspiratif dan bisa dijadikan pelajaran untuk kita sebagai bangsa agraris. Saya pikir Indonesia bisa seperti itu juga kang, asalkan ada peran aktif dari semua pihak, termasuk pemerintah.

Leave a Reply